Aku sudah biasaditampar kata terdiam seribu bahasaAku sudah biasamenyaksikan cinta tak berbalas cintaCabai merahpun enggan kalahTapi lidahmu parahBerhasil membuatku patahAku di sini tidak bersalahTidak pernahAku tidak bersalahAku tak paham persoalansungguh ini ambigusama seperti ketaksaanAku disalahkan,selalu disalahkan!Padahal itu belum tentuAku menatap awan kelabuTapi ia malah tertawaSama seperti candramawaGelap, terang,Cerah, kelabuAku tak paham maksudmuJangan lagi menuduhku!
Kilau mentari memberi kehangatan Menyambut hari dengan segenap kekuatan Tak lupa rasa syukur tertuang, sebab masih hirup udara untuk berjuang Kala itu ia menyapa tak kalah mentari, pun memberi kehangatan di pagi hari. Kala sejuk enggan pergi dari sini justru ia hadir menghibur diri, memeluk hati, menghangatkan kalbu Nabastala kan menjadi saksi atas nama perasaan ini, Bersama arunika, April terasa bahagia Oh tuhan, apakah semua ini nyata?
Komentar
Posting Komentar