Langsung ke konten utama

CANDRAMAWA

Aku sudah biasa
ditampar kata terdiam seribu bahasa
Aku sudah biasa
menyaksikan cinta tak berbalas cinta
Cabai merah
pun enggan kalah
Tapi lidahmu parah
Berhasil membuatku patah
Aku di sini tidak bersalah 
Tidak pernah
Aku tidak bersalah
Aku tak paham persoalan
sungguh ini ambigu
sama seperti ketaksaan
Aku disalahkan,
selalu disalahkan!
Padahal itu belum tentu
Aku menatap awan kelabu
Tapi ia malah tertawa
Sama seperti candramawa
Gelap, terang,
Cerah, kelabu
Aku tak paham maksudmu
Jangan lagi menuduhku!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERSAMA ARUNIKA

Kilau mentari  memberi kehangatan Menyambut hari dengan segenap kekuatan Tak lupa rasa syukur tertuang,  sebab masih hirup udara untuk berjuang Kala itu ia menyapa tak kalah mentari, pun memberi kehangatan di pagi hari.  Kala sejuk enggan pergi dari sini justru ia hadir menghibur diri, memeluk hati, menghangatkan kalbu Nabastala kan menjadi saksi  atas nama perasaan ini, Bersama arunika,  April terasa bahagia Oh tuhan,  apakah semua ini nyata?

ASMARALOKA

Swastamita meninggalkan nabastala Nelayan mendayung pilaunya Senja hadir menghiasi cakrawala Merah merekah berpadu dalam payoda Lelaki tiba dari seberang kota, menghembus arumi rindu, menebar pesona dama Daksanya mendekat, terpancar mata yang syahdu Seperti yang kau tahu, pair jantungku, namun harsa di dadaku Tak perduli kehadiran syham, melegakan siangku di waktu malam, menghangatkan daksaku di waktu petang Menjelajah dan berpetualang Ku jadi tak ingin pulang Ia tak ingin aku hilang Ia inginkan aku tersayang biar aku selalu ada untuknya dan bersemi dalam asmaraloka ***