Kepada kacaaku menataptak lagi nampak berseri hirapLingkar hitam menghiasi aksa,bintik merah menggerogoti mukaPada cerminsenyumku terpaksasebab batin telah mati tersiksaKepada fisik,engkau mempesonaAku tak menyuruhmu harus sempurnaTak perlu bagai aninditayang harus selalu cantik jelitaTapi nyatanya tak seindah realitaIni hanyalah untaian kataKepada kacaaku berbicaraKepada dirikuaku berceritaDunia ini bukan tentang paripurnaMelukis senyum, menerka air mataAku berharap,semoga dia tetap mencinta
Aku sudah biasa ditampar kata terdiam seribu bahasa Aku sudah biasa menyaksikan cinta tak berbalas cinta Cabai merah pun enggan kalah Tapi lidahmu parah Berhasil membuatku patah Aku di sini tidak bersalah Tidak pernah Aku tidak bersalah Aku tak paham persoalan sungguh ini ambigu sama seperti ketaksaan Aku disalahkan, selalu disalahkan! Padahal itu belum tentu Aku menatap awan kelabu Tapi ia malah tertawa Sama seperti candramawa Gelap, terang, Cerah, kelabu Aku tak paham maksudmu Jangan lagi menuduhku!
Komentar
Posting Komentar