Langsung ke konten utama

ARUMI SYAHDU

Bertutur tentang luasnya samudera,
tak luput dari jejak insan yang anggara
Gemerlap kelam tanpa sinar bagaskara,
tibalah bulan suci hati terasa gembira

Menggema aksa lantunan Al-Qur'an,
bergetar atma umat-umat beriman,
air mata dosa tumpah bercucuran,
daksa bersimpuh memohon ampunan

Beriring melodi merdu tadarusan,
anak-anak lari melempar petasan,
ibu-ibu gencar mengolah kue lebaran,
mengguncang lambung jadi keroncongan

Ramadan, kehadiranmu,
mencairkan kalbu yang membeku,
yang pernah memeluk masa kecilku,
bersama keluguan teman-temanku

Dan bila habis masamu,
kau selipkan secarik arumi rindu,
Melambung bersama hembusan serayu,
terkenanglah rupa-rupa malam yang syahdu

Dan bila habis waktumu,
kau titipkan sajak-sajak rindu
Melayang damai di atas awan biru,
terkenanglah irama-irama malam yang berlagu

Pada rinduku yang tak tersampaikan,
sajak ini bukan sekadar ungkapan
Genggamlah jantungku agar kau rasakan,
betapa rindu sukmaku menyambut Ramadan


**** 

Catatan penulis

DESCLAIMER: Jika ingin membagikan puisi ini ke platform lain, harap selalu menyertakan sumber dan nama pengarangnya. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG!!! Sekian, terimakasih. ~


#puisirima
#rimaamarasabrina
#puisiislami
#ramadan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CANDRAMAWA

Aku sudah biasa ditampar kata terdiam seribu bahasa Aku sudah biasa menyaksikan cinta tak berbalas cinta Cabai merah pun enggan kalah Tapi lidahmu parah Berhasil membuatku patah Aku di sini tidak bersalah  Tidak pernah Aku tidak bersalah Aku tak paham persoalan sungguh ini ambigu sama seperti ketaksaan Aku disalahkan, selalu disalahkan! Padahal itu belum tentu Aku menatap awan kelabu Tapi ia malah tertawa Sama seperti candramawa Gelap, terang, Cerah, kelabu Aku tak paham maksudmu Jangan lagi menuduhku!

BERSAMA ARUNIKA

Kilau mentari  memberi kehangatan Menyambut hari dengan segenap kekuatan Tak lupa rasa syukur tertuang,  sebab masih hirup udara untuk berjuang Kala itu ia menyapa tak kalah mentari, pun memberi kehangatan di pagi hari.  Kala sejuk enggan pergi dari sini justru ia hadir menghibur diri, memeluk hati, menghangatkan kalbu Nabastala kan menjadi saksi  atas nama perasaan ini, Bersama arunika,  April terasa bahagia Oh tuhan,  apakah semua ini nyata?

ASMARALOKA

Swastamita meninggalkan nabastala Nelayan mendayung pilaunya Senja hadir menghiasi cakrawala Merah merekah berpadu dalam payoda Lelaki tiba dari seberang kota, menghembus arumi rindu, menebar pesona dama Daksanya mendekat, terpancar mata yang syahdu Seperti yang kau tahu, pair jantungku, namun harsa di dadaku Tak perduli kehadiran syham, melegakan siangku di waktu malam, menghangatkan daksaku di waktu petang Menjelajah dan berpetualang Ku jadi tak ingin pulang Ia tak ingin aku hilang Ia inginkan aku tersayang biar aku selalu ada untuknya dan bersemi dalam asmaraloka ***