Langsung ke konten utama

HARAPAN PEMUDA BANGSA

Selalu terngiang di telingaku
Nasihat guru untuk kami
Sebagai anak bangsa,
anak Nusantara,
generasi penerus bangsa

Kalian harus belajar dengan giat
Carilah ilmu sampai ke negeri China
Singsingkan lengan baju,
kejar prestasi,
raih cita-citamu setinggi langit!

Guruku yang terhormat,
dan tercinta
Akankah kami dapat menjadi seperti yang kau harapkan?
Menjadi anak pewaris,
pemimpin bangsa yang jujur
Tidak menjadi pemimpin yang palsu,
yang hanya terbelenggu nafsu,
ambisi, dan korupsi

Setiap hari…
Mata kami dipertontonkan:
Rendahnya nilai moral pejabat
Setiap saat…
Telinga kami diperdengarkan:
Kerakusan pemimpin
yang menjarah uang rakyat

Tak ada figur yang berhati mulia
Semua terkontaminasi.
Oleh ambisi dan korupsi
Anak bangsa lesu tanpa daya
Krisis moral menjadi bencana mengerikan,
dan menyeramkan

Bisakah kami keluar dari bumi pertiwi?
Yang berbingkai kepalsuan,
yang sedang mati suri,
dan terbelenggu setan koruptor?
Bumiku semakin terpuruk menangis perih
Bumiku seakan tenggalam dalam kesedihan, berduka,
dan berkabung

Kami, anak muda,
pewaris pemimpin bangsa 
Hanya berharap
Masih ada figur yang berhati mulia
yang dapat melepaskan kami dari:
Kemiskinan, pengangguran,
dan kebodohan

Wahai teman,
anak bangsa, anak Nusantara,
generasi penerus bangsa
Mari kita
singsingkan lengan baju,
gerakkan sendi,
berjuang setegar karang
yang tak goyah dihantam ombak!

Semoga…
Allah yang Maha Kuasa
Mengabulkan cita-cita kita
Menjadi anak bangsa yang berbudi luhur
Aamiin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CANDRAMAWA

Aku sudah biasa ditampar kata terdiam seribu bahasa Aku sudah biasa menyaksikan cinta tak berbalas cinta Cabai merah pun enggan kalah Tapi lidahmu parah Berhasil membuatku patah Aku di sini tidak bersalah  Tidak pernah Aku tidak bersalah Aku tak paham persoalan sungguh ini ambigu sama seperti ketaksaan Aku disalahkan, selalu disalahkan! Padahal itu belum tentu Aku menatap awan kelabu Tapi ia malah tertawa Sama seperti candramawa Gelap, terang, Cerah, kelabu Aku tak paham maksudmu Jangan lagi menuduhku!

BERSAMA ARUNIKA

Kilau mentari  memberi kehangatan Menyambut hari dengan segenap kekuatan Tak lupa rasa syukur tertuang,  sebab masih hirup udara untuk berjuang Kala itu ia menyapa tak kalah mentari, pun memberi kehangatan di pagi hari.  Kala sejuk enggan pergi dari sini justru ia hadir menghibur diri, memeluk hati, menghangatkan kalbu Nabastala kan menjadi saksi  atas nama perasaan ini, Bersama arunika,  April terasa bahagia Oh tuhan,  apakah semua ini nyata?

ASMARALOKA

Swastamita meninggalkan nabastala Nelayan mendayung pilaunya Senja hadir menghiasi cakrawala Merah merekah berpadu dalam payoda Lelaki tiba dari seberang kota, menghembus arumi rindu, menebar pesona dama Daksanya mendekat, terpancar mata yang syahdu Seperti yang kau tahu, pair jantungku, namun harsa di dadaku Tak perduli kehadiran syham, melegakan siangku di waktu malam, menghangatkan daksaku di waktu petang Menjelajah dan berpetualang Ku jadi tak ingin pulang Ia tak ingin aku hilang Ia inginkan aku tersayang biar aku selalu ada untuknya dan bersemi dalam asmaraloka ***