Langsung ke konten utama

JURAGAN BUMBU


Saban pagi, di kala sarayu sejuk menusuk
Di saat orang-orang terlelap meringkuk
Dipadukannya rempah-rempah ke dalam mangkuk
Kemudian bergegas ia walau terkantuk

Dengan Mionya ia bertaruh raga
Memburu recehan, memuaskan dahaga
Di tempat itu ia berniaga
Demi ananda esok memasang toga
 
Daksanya hampir lagi rimpuh
Namun tak jua bagai sesepuh
Dari tangannya sodet hampir lumpuh,
disajikannya hidangan, lidah jadi luluh

Itulah ia sang juragan bumbu
Darinya kalbu dan kaldu bersatu
Masakannya selalu menyajikan rindu,
menghidangkan haru, menghirapkan deru
Olehnya jiwa dan jahe berpadu
Kau mesti tak tahu, dialah ayahku


***
Catatan penulis

DESCLAIMER: Jika ingin membagikan puisi ini ke platform lain, harap selalu menyertakan sumber dan nama pengarangnya. HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG!!! Sekian, terimakasih. ~


#puisirima
#rimaamarasabrina
#puisiperjuangan
#orangtua
#ayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CANDRAMAWA

Aku sudah biasa ditampar kata terdiam seribu bahasa Aku sudah biasa menyaksikan cinta tak berbalas cinta Cabai merah pun enggan kalah Tapi lidahmu parah Berhasil membuatku patah Aku di sini tidak bersalah  Tidak pernah Aku tidak bersalah Aku tak paham persoalan sungguh ini ambigu sama seperti ketaksaan Aku disalahkan, selalu disalahkan! Padahal itu belum tentu Aku menatap awan kelabu Tapi ia malah tertawa Sama seperti candramawa Gelap, terang, Cerah, kelabu Aku tak paham maksudmu Jangan lagi menuduhku!

BERSAMA ARUNIKA

Kilau mentari  memberi kehangatan Menyambut hari dengan segenap kekuatan Tak lupa rasa syukur tertuang,  sebab masih hirup udara untuk berjuang Kala itu ia menyapa tak kalah mentari, pun memberi kehangatan di pagi hari.  Kala sejuk enggan pergi dari sini justru ia hadir menghibur diri, memeluk hati, menghangatkan kalbu Nabastala kan menjadi saksi  atas nama perasaan ini, Bersama arunika,  April terasa bahagia Oh tuhan,  apakah semua ini nyata?

ASMARALOKA

Swastamita meninggalkan nabastala Nelayan mendayung pilaunya Senja hadir menghiasi cakrawala Merah merekah berpadu dalam payoda Lelaki tiba dari seberang kota, menghembus arumi rindu, menebar pesona dama Daksanya mendekat, terpancar mata yang syahdu Seperti yang kau tahu, pair jantungku, namun harsa di dadaku Tak perduli kehadiran syham, melegakan siangku di waktu malam, menghangatkan daksaku di waktu petang Menjelajah dan berpetualang Ku jadi tak ingin pulang Ia tak ingin aku hilang Ia inginkan aku tersayang biar aku selalu ada untuknya dan bersemi dalam asmaraloka ***