Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2020

KEHILANGAN ARAH

Kala daku bermasygul, tiada seorang pun merangkul, tiada seekor burung pun bersiul, hanya kesenduan nan suka dipikul Berlari, kuberlari, menyisakan setapak jejak kaki, menyisipkan sesayup bisikan hati meninggalkan serpihan alunan melodi Lalu arunika datang menyapa, aku masih terjebak dalam hutan belantara, aku teriak hingga kehilangan suara termenung berkabung dalam duka lara Untuk waktu yang lama, tetap dengan raga yang sama, aku bersimpuh meminta aksama, kepada Tuhan sang pemilik atma, dariku hambamu yang tak sempurna **** 

BERCAKAP TENTANG HIDUP

Di titik pusaran malam Jentik-jentik mengapung di pikiran yang suram Lentik jarinya tak mampu menyulam Menyulam keindahan hari yang muram Sampai kapanpun  Entah bagaimanapun Takkan mampu engkau menghimpun makna tersuram bagi hidupku yang rimbun ***

KERUTUHAN ISTANAKU

Jauh langkah wanita berselendang Sejauh mata dia memandang Hembusan angin sendu bersenandung Dalam pilau di langit mendung Jauh bukit beralaskan rumput Selendangnya tak menutupi rambut Mudah baginya priaku direbut Tak hirau rasa sambut menyebut Serpihan kayu runtuh berserakan Serpihan hati retak dipecahkan Bersamanya runtuh istana kerajaan Singgasana rusak dibelah kepercayaan Duhai manis datang mengemis Kepada cinta yang tak pernah habis Tak hirau rasa hati terkikis Tinggallah duka air mata menangis ****

ARUMI SYAHDU

Bertutur tentang luasnya samudera, tak luput dari jejak insan yang anggara Gemerlap kelam tanpa sinar bagaskara, tibalah bulan suci hati terasa gembira Menggema aksa lantunan Al-Qur'an, bergetar atma umat-umat beriman, air mata dosa tumpah bercucuran, daksa bersimpuh memohon ampunan Beriring melodi merdu tadarusan, anak-anak lari melempar petasan, ibu-ibu gencar mengolah kue lebaran, mengguncang lambung jadi keroncongan Ramadan, kehadiranmu, mencairkan kalbu yang membeku, yang pernah memeluk masa kecilku, bersama keluguan teman-temanku Dan bila habis masamu, kau selipkan secarik arumi rindu, Melambung bersama hembusan serayu, terkenanglah rupa-rupa malam yang syahdu Dan bila habis waktumu, kau titipkan sajak-sajak rindu Melayang damai di atas awan biru, terkenanglah irama-irama malam yang berlagu Pada rinduku yang tak tersampaikan, sajak ini bukan sekadar ungkapan Genggamlah jantungku agar kau rasakan, betapa rindu sukmaku menyambut Ramadan **** 

Al-Qur'an

Bertutur tentang utara dan samudera Tak luput dari jejak insan yang anggara Gemerlap kelam tanpa sinar bagaskara Turunlah surat cinta di gua hira Bergetar atma sang Baginda, Inilah tanda perjuangan bermula Menyampaikan surat-surat cinta, dari sang Maha Pencipta Dalam sajak-sajaknya Susunan rima yang sempurna Tertutur indah memesona Tersampaikan kabar bahagia, bagi umat manusia Gemerlap sirna, cahaya bersinar Menyejukkan jiwa manusia yang terbakar Merelungi ruang hati insan yang bingar Menampar sukma mereka yang ingkar Itulah dia, kekuatan surat cinta dari-Nya Mampu membuat siapapun terkesima Jaminan bahagia bagi yang membacanya Sudahkah engkau membacanya? ****

JURAGAN BUMBU

Saban pagi, di kala sarayu sejuk menusuk Di saat orang-orang terlelap meringkuk Dipadukannya rempah-rempah ke dalam mangkuk Kemudian bergegas ia walau terkantuk Dengan Mionya ia bertaruh raga Memburu recehan, memuaskan dahaga Di tempat itu ia berniaga Demi ananda esok memasang toga   Daksanya hampir lagi rimpuh Namun tak jua bagai sesepuh Dari tangannya sodet hampir lumpuh, disajikannya hidangan, lidah jadi luluh Itulah ia sang juragan bumbu Darinya kalbu dan kaldu bersatu Masakannya selalu menyajikan rindu, menghidangkan haru, menghirapkan deru Olehnya jiwa dan jahe berpadu Kau mesti tak tahu, dialah ayahku ***

KEMBALI

Aku pergi,  membawa luka hati Dua tahun yang lalu, di saat hati tak lagi bertemu hati, ranting tak lagi menemani daun,  kupu-kupu tak lagi bertamu, Aku tercekat,  mendengar kata-kata dusta terucap dari bibirmu Aku rapuh,  Melihat bukti-bukti terkuak  tanpa pengakuan darimu Hari itu.. Kala itu.. terlalu sakit untuk diceritakan Namun aku kembali seolah-olah semuanya telah terlupakan Aku lupa bahwa hatiku membutuhkan penawar Bukan,  maksudku  bukan penawar rindu intinya Aku butuh penawar kalbu dan aku hanya ingin kita berjalan tanpa ada yang mengganggu

LINTANG RESWARA

Pemuda Dari ujung desa hingga kota Kakimu kau pijakkan pada sebuah pembelaan Bela di atas deru derita rakyat Hai pemuda pemudi Indonesia Tanganmu kau ulurkan menopang hayat masyarakat Kalian sang penggagas ide perkasa Berkaryalah hingga bersinar  bagai lintang yang menghiasi payoda Bebaskanlah atma hingga megar  bagai sepucuk mawar yang menghiasi pagar Wahai pemuda pemudi perkasa generasi penerus bangsa Kau mesti mengguncang buana Teruslah menjadi reswara Demi kemakmuran hidup negara

HARAPAN PEMUDA BANGSA

Selalu terngiang di telingaku Nasihat guru untuk kami Sebagai anak bangsa, anak Nusantara, generasi penerus bangsa Kalian harus belajar dengan giat Carilah ilmu sampai ke negeri China Singsingkan lengan baju, kejar prestasi, raih cita-citamu setinggi langit! Guruku yang terhormat, dan tercinta Akankah kami dapat menjadi seperti yang kau harapkan? Menjadi anak pewaris, pemimpin bangsa yang jujur Tidak menjadi pemimpin yang palsu, yang hanya terbelenggu nafsu, ambisi, dan korupsi Setiap hari… Mata kami dipertontonkan: Rendahnya nilai moral pejabat Setiap saat… Telinga kami diperdengarkan: Kerakusan pemimpin yang menjarah uang rakyat Tak ada figur yang berhati mulia Semua terkontaminasi. Oleh ambisi dan korupsi Anak bangsa lesu tanpa daya Krisis moral menjadi bencana mengerikan, dan menyeramkan Bisakah kami keluar dari bumi pertiwi? Yang berbingkai kepalsuan, yang sedang mati suri, dan terbelenggu setan koruptor? Bumiku semakin terpuruk menangis perih Bumiku seakan tenggalam dalam kesedih...

KEMENANGAN

Semerbak bunga melati,  tak seharum mawar di hati Merah buah delima,  tak semerkah senja di sore hari Kunikmati secangkir teh di ujung hari,  dengan 1 persen cairan, 99 persennya kenangan Cepat-cepat lari  meninggalkan imajinasi, mengubur masa lalu yang telah mengutuk diri Cepat-cepat bangkit  dari zona halusinasi, Menghadapi masa depan yang tak bisa dihindari Peringai buruk tidak akan selamanya buruk,  peringai baik pun  tidak akan selamanya baik Dengarlah,  kukatakan padamu: "jangan sekali-kali remehkan mereka yang tak mampu" Ingatlah,  kutegaskan padamu: "satu kemenangan, tak luput dari seribu perjuangan"

CANDRAMAWA

Aku sudah biasa ditampar kata terdiam seribu bahasa Aku sudah biasa menyaksikan cinta tak berbalas cinta Cabai merah pun enggan kalah Tapi lidahmu parah Berhasil membuatku patah Aku di sini tidak bersalah  Tidak pernah Aku tidak bersalah Aku tak paham persoalan sungguh ini ambigu sama seperti ketaksaan Aku disalahkan, selalu disalahkan! Padahal itu belum tentu Aku menatap awan kelabu Tapi ia malah tertawa Sama seperti candramawa Gelap, terang, Cerah, kelabu Aku tak paham maksudmu Jangan lagi menuduhku!

HISTORI

Teringat bagaimana siang itu jari-jariku menari mengetik namamu. Tak ada yang istimewa, aku biasa saja Bahkan aku lupa apa nama panjangmu,  tapi jari-jariku.. tetap mengetik dan menari Menelusuri jejak histori Tenggelam dalam buaian histori menemukan sosok yang dicari Tapi tak ada yang istimewa, sungguh aku tak ada rasa Karna keisengan itu, di siang-siang itu  mengudang rindu datang menggelitik Kutemukan sosokmu di balik nama itu Setelah sekian lama, Berbulan-bulan, bertahun-tahun, 7 tahun waktu yang amat sangat lama. Tapi aku tak menyangka, Kita akhirnya bersama

BERSAMA ARUNIKA

Kilau mentari  memberi kehangatan Menyambut hari dengan segenap kekuatan Tak lupa rasa syukur tertuang,  sebab masih hirup udara untuk berjuang Kala itu ia menyapa tak kalah mentari, pun memberi kehangatan di pagi hari.  Kala sejuk enggan pergi dari sini justru ia hadir menghibur diri, memeluk hati, menghangatkan kalbu Nabastala kan menjadi saksi  atas nama perasaan ini, Bersama arunika,  April terasa bahagia Oh tuhan,  apakah semua ini nyata?

TAKDIR

Jodoh tak ada yang tahu,  takdir tak ada yang tahu Tapi bolehkah aku mencari jodohku? Aku rasa kamulah jodohku Tapi apakah kamu mau? Jodoh memang tak ada yang tahu, Tapi bolehkah kutulis namamu? Aku rasa kamu takkan tau Bahwa sejak lama sejak Dara bertemu Merpati,  namamu telah tertulis di dalam hati Aku tau, ini tidak mudah Bukanlah hal yang mudah Ini sangatlah sulit Sukar rasanya, ingin kuulang Agar terasa mudah Namun aku sadar,  ini adalah hal tersulit di hidupku Aku ingat bagaimana cara kau menyentuhku, menyentuh permukaan kulit hatiku Gelap, buta, hitam, suram Tidak ada yang tau, Kini kau bersamaku 

ANINDITA

Kepada kaca  aku menatap tak lagi nampak berseri hirap Lingkar hitam menghiasi aksa, bintik merah menggerogoti muka Pada cermin  senyumku terpaksa sebab batin telah mati tersiksa Kepada fisik,  engkau mempesona Aku tak menyuruhmu harus sempurna Tak perlu bagai anindita yang harus selalu cantik jelita Tapi nyatanya tak seindah realita Ini hanyalah untaian kata Kepada kaca  aku berbicara Kepada diriku  aku bercerita Dunia ini bukan tentang paripurna Melukis senyum, menerka air mata Aku berharap,  semoga dia tetap mencinta

MENUNGGANG NASIB

Dalam kesunyian ruang Buku-buku usang Tiada pun yang terkenang Hujan mengadu pada lintang Patrikor hanyut bersama hembusan sarayu Ada mata yang ingin mengadu Sukmanya bergetar Jiwanya disambar halilintar Dalam sudut ruang Ia merenung seorang Sesekali meraung-raung Patahlah hatinya diremehkan Dalam kesunyian shyam Di balik bambu yang dianyam Di atas lantai berpapan Ia menyalahkan keadaan Dengan kekurangan, ia ditertawakan Tiada sandang, terbelenggu kemiskinan Tiada seorang yang mau berteman

TANPA TIRTA AMARTA

Melanglang buana wabah bencana, tiba-tiba menggemparkan dunia Mencuri perhatian awak media, segenap wartawan turut bertanya-tanya Corona, pandemi berbahaya Menggandeng malapetaka Bagai dikutuk menyerang daksa Bumi mati tanpa tirta amarta Kami, atas nama rakyat jelata, amat menderita! Pendidikan diliburkan, ekonomi dirugikan, ibadah dihentikan, pertemuan dibataskan Lalu, siapa yang akan memberi kami pangan? Kami terpenjara di dalam rumah Kaki dilarang mengecap tanah Yang jomlo merenung bermuhasabah, yang menikah gagal walimah Miris, setiap insan dibuat gelabah Namun kepadamu Corona, terimakasih Karenamu kami saling berbagi kasih Meski dilarang bersungkeman, tapi kami jadi rajin membasuh tangan Melalui Corona, Tuhan bercerita Tentang romansa harsa cita Tuhan ingin menunjukkan betapa kilau Nur-Nya Juga ingin mempertontonkan betapa pedih azab-Nya Tuhan rindu akan kita, yang sok sibuk mengurus dunia Melalui Corona, Tuhan mendekap kita Agar kita kembali ke jalan-Nya Kepada dokter dan perawat...

ASMARALOKA

Swastamita meninggalkan nabastala Nelayan mendayung pilaunya Senja hadir menghiasi cakrawala Merah merekah berpadu dalam payoda Lelaki tiba dari seberang kota, menghembus arumi rindu, menebar pesona dama Daksanya mendekat, terpancar mata yang syahdu Seperti yang kau tahu, pair jantungku, namun harsa di dadaku Tak perduli kehadiran syham, melegakan siangku di waktu malam, menghangatkan daksaku di waktu petang Menjelajah dan berpetualang Ku jadi tak ingin pulang Ia tak ingin aku hilang Ia inginkan aku tersayang biar aku selalu ada untuknya dan bersemi dalam asmaraloka ***